Sistem pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kali ini sedikit berbeda dengan pemilihan ketua umum dan rais Aam periode-periode sebelumnya. Kali ini masing-masing pimpinan daerah dan pimpinan cabang memilih sembilan anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dan selanjutnya Sembilan anggota AHWA yang terdiri dari para Kiai sepuh lah yang akan melakukan pemilihan Rais Aam dan Ketua umum PBNU untuk masa Khidmah 2026-2031.
Setelah dilakukan penjaringan dari beberapa nama yang di usulkan, akhirnya rapat pleno memutuskan 9 (Sembilan) orang untuk menjadi anggota AHWA.
Sembilan anggota AHWA terpilih di antaranya :
- KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso Kediri).
- TGK. KH. Nuruzzahri yahya (Waled NU, Aceh).
- AG. Dr. KH. Baharuddin HS, MA (Makasar).
- KH. Miftachul Achyar (Surabaya).
- KH. Afifuddin Muhajir (Situbondo).
- KH. Anwar Iskandar (Kediri).
- KH. Anwar Manshur (Lirboyo Kediri).
- Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Cirebon, Jakarta).
- Dr. KH. Abun Bunyamin, MA (Purwakarta).
Setelah di warnai sedikit kericuhan dari pendukung salah satu calon Ketua Umum yang tersingkir serta mendapat sedikit penolakan dari sekelompok orang, akhirnya KH. Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam untuk masa bakti 2026-2031.
Salah satu yang paling keras menolak pencalonan kembali KH. Miftachul Akhyar adalah KH. Asep Saifuddin Chalim, pendiri pondok pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Mojokerto sekaligus pendiri dan pemilik Universitas KH. Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto Jawa Timur. Menurutnya KH. Miftachul Achyar sudah tidak layak untuk memimpin Rais Aam PBNU dan meminta nya untuk tidak mencalonkan diri pada periode ini.
KH. Asep Saifuddin juga mengungkapkan bahwa, Ia lah yang mengajak KH. Miftach untuk masuk ke dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama, saat Ia menjabat Ketua PCNU kota Surabaya pada tahun 1995.
“Atas nama orang yang pernah baik dan pernah mengajak beliau masuk ke NU tentu saya merasa kasian kepada beliau, saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan sebagai Rais Aam. “ kata Kiai Asep di hadapan beberapa awak media lokal (28/8/2026) seperti yang di kutip Investigasi Utama pada Chanel youtube JTVJember.
KH. Asep yang juga Ketua Umum Jaringan Kiai Santri nasional (JKSN) mengusulkan agar KH. Nurul Huda Djazuli pengasuh pondok pesantren Al-Falah Ploso untuk menjadi Syuriah PBNU ( Rais Aam).
Namun 9 (Sembilan) anggota AHWA akhirnya secara bulat (mufakat) memilih dan menetapkan KH. Miftachul Achyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026-2031.
Selanjutnya Rais Aam beserta 8 (delapan) anggota AHWA melakukan pemilihan Ketua Umum PBNU untuk masa bakti yang sama.
Setelah melakukan musyawarah akhirnya, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum. Sebelumnya Gus Kikin menjadi kandidat ketua Umum dengan perolehan suara tertinggi dalam proses penjaringan aspirasi dari para muktamirin dengan perolehan suara 472 perwakilan pengurus NU daerah.
Perolehan tersebut mengungguli suara petahana, KH Yahya Cholil Staquf yang hanya memperoleh 258 suara. KH. Zulfa Mustofa berada di urutan kedua dengan perolehan 262, KH. Abdussalam Sohib memperoleh 261 suara dan KH. Abdul Ghaffar Rozin 155 suara.
Gus Kikin lahir 17 Agustus 1958 dan merupakan cicit pendiri NU, Hadratussyekh KH.Hasyim Asy’ari dan juga ponakan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Saat ini Ia merupakan pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang meneruskan kepemimpinan pamannya KH Salahuddin Wahid yang wafat pada tahun 2020 lalu.












Leave a Reply