Pasca serangan israel yang di dukung penuh oleh sekutunya Amerika Serikat, sehingga menyebabkan tewasnya pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini beserta beberapa orang keluarga intinya, Presiden Prabowo menulis surat Duka cita atas wafatnya Pemimpin tertinggi Iran tersebut. Surat duka cita Presiden Prabowo di serahkan melalui Menteri luar negeri (Menlu) RI, Sugiono kepada Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujedi.
Informasi mengenai pengiriman surat ini di sampaikan oleh Sekertaris Kabinet ( Seskab) Teddy Indra Wijaya.
“Presiden Prabowo Subianto menulis surat duka cita atas wafatnya Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini yang gugur dalam serangan militer pada awal maret 2026,” ungkap Teddy melalui akun Instagram @sekretariat.kabinet pada Rabu (4/2/2026).
Surat tersebut di tujukan kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian yang ditipkan melalui Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia.
“Surat resmi berisi bela sungkawa mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khameini tersebut di tujukan kepada Presiden Iran Masoud Pazeshkian, dan di serahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri, Sugiono kepada Dubes Iran di Jakarta,” lanjut Teddy.
Dampak Perang Israel – Amerika Serikat VS Iran.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono memaparkan kekhawatiran pemerintah terkait eskalasi konflik di timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sugiono menilai situasi saat ini berada pada titik yang sangat rawan dan akan berpotensi memicu dampak global yang lebih luas jika tidak di redam.
Ia menjelaskan bahwa resiko terburuk yang kini menghantui dunia adalah terjadinya perluasan zona konflik yang melibatkan banyak aktor negara.
Sebagian kalangan terutama para ahli ekonomi berpendapat perang ini selain berpotensi terjadinya Perang Dunia III juga akan memicu resesi Ekonomi dunia.
Sugiono menegaskan bahwa Indonesia secara konsisten mendesak dilakukannya de-eskalasi demi meredakan situasi yang kian memanas.
Pemerintah Indonesia juga menyesalkan kegagalan berbagai upaya perundingan sebelumnya yang justru berujung pada peningkatan konfrontasi bersenjata.
Indonesia menawarkan diri sebagai penengah guna mencari titik temu di antara para pihak yang bertikai.
“Presiden sendiri sudah menyampaikan keinginan beliau, menawarkan kesediaan beliau untuk menjadi mediator jika kedua belah pihak menyepakati dan menyetujui ya,” Ujar Sugiono, usai acara buka puasa bersama Partai Demokrat di Hotel Fairmont Jakarta, Rabu (4/2/2026).












Leave a Reply