TAKENGON (IU) – Setelah ditimpa tanah longsor setahun yang lalu, hingga kini sekolah SMA Negeri 19, Kecamatan Rusip, Takengon, belum juga diperbaiki. Karenanya, 3 ruang belajar dan 2 Mes Guru tidak dapat digunakan sama sekali.
“Padahal sudah satu tahun yang lalu sekolah ini dihantam longsor tapi belum juga ada perbaikan karena terbentur dana,” ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 19, Muhammad, sembari menunjukkan lokasi robohnya sekolah itu kepada Investigasiutama.com, Selasa (26/11) siang.
Akibat bencana longsor tersebut, anak didik yang duduk di bangku kelas 12, sejak setahun yang lalu harus pindah dengan menggunakan ruang laboratorium sebagai tempat aktifitas belajar mereka.
Dari pantauan Investigasiutama.com yang langsung dilakukan Pimpinan Redaksi Darwinsyah di lapangan, sejumlah dinding ruang kelas dan bangunan rumah dinas di sekolah itu roboh karena dorongan tanah yang sangat kuat dari bukit sebelah sekolah tersebut.

Kini, ruang kelas itu juga tidak memiliki dinding sedangkan ruangan dibagian dalam telah dipenuhi tanah dan meterial lainnya. Untuk itu ruang kelas tidak dapat digunakan lagi karena takut membahayakan murid jika belajar di dalam ruangan tersebut.
Sekolah dengan jumlah siswa 180 jiwa itu, berlokasi di dataran lahan yang lebih rendah dari jalan utama sehingga sangat rawan diterjang tanah longsor. Kondisi ini juga membuat siswa dan guru tidak nyaman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sana.
“Yang paling penting jalan utama yang terletak di atas sekolah ini seharunya dibangun drainase atau gorong-gorong sehingga air tidak menggerus tanah dan longsor tidak terjadi,” tambah Muhammad.
Ditinjau dari letak geografis lokasi sekolah tersebut, terjadinya longsor dikarenakan aliran air yang deras turun dari atas yakni jalan utama. Lalu air yang mengalir deras itu langsung menuju sekolah dengan menggerus tanah. Bahkan longsor juga hampir memakan jalan utama yang berlokasi di sana.
Hal ini dikarenakan tidak adanya gorong-gorong atau drainase menampung cukup debit air yang mengalir dari atas.
Potre menyedihkan dunia pendidikan terpampang nyata setalah melihat jalan dibangun dengan mulus namun tidak dilengkapi prasarana seperti drainase sehingga merusak dan membahayakan anak didik yang bersekolah di SMA Negeri 19. Bahkan ruang yang rusak sudah setahun lamanya tidak kunjung diperbaiki.















