Site icon Investigasi Utama

PERAMBAHAN HUTAN DAN ILLEGAL LOGGING DI KECAMATAN SYIAH UTAMA SEMAKIN PARAH, GAJAH LIAR MASUK PERMUKIMAN WARGA


Investigasi Utama – Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, tengah menghadapi krisis ekologi besar-besaran. Aktivitas perambahan hutan dan pembalakan liar (illegal logging) yang makin tak terkendali, mendorong gajah Sumatera keluar dari habitatnya dan memasuki permukiman warga.
Warga kini hidup dalam ketakutan, tanaman rusak, dan konflik satwa-manusia semakin intens terjadi.


Dalam beberapa pekan terakhir, warga dari berbagai kampung melaporkan kemunculan gajah yang merangsek lahan pertanian, hingga mendekati perumahan warga. Gajah-gajah ini bukan agresif, tapi kelaparan—mereka mencari ruang hidup yang telah dirampas, oleh tangan tangan tidak bertanggung jawab.
“Kami berjaga tiap malam. Tanaman habis, anak-anak takut keluar rumah. Ini bukan konflik biasa, ini akibat hutan kami dihancurkan,” ujar Seorang Tokoh yang enggan disebutkan namanya, warga Kampung Rusip Kecamatan Syah Utama, Selasa(27/5).


Krisis Ekosistem dan Kegagalan Pengawasan Penyuluh Kehutanan Syiah Utama, Ismahadi, SP., M.Ling yang coba di hubungi awak media., menegaskan bahwa rusaknya hutan telah mendorong satwa liar keluar dari zona alaminya.
“Illegal logging tidak hanya merusak pohon, tapi juga menciptakan konflik. Ini darurat. Kami butuh dukungan nyata dari pusat,” ujar Ismahadi.
Kondisi ini diperparah dengan lemahnya pengawasan di lapangan. Kepala KPH Wilayah III Aceh yang diwakili oleh Kepala BKPH Linge Isaq, Yusrin, S.Hut., MP., mengakui bahwa kelemahan struktur operasional dan minimnya personel menjadi tantangan besar.

“Kami kekurangan personil dan sarana operasional untuk melakukan pengawasan maupun penindakan. Wilayah hutan kami luas, diperlukan dukungan dan kolaborasi semua pihak termasuk unsur dari Kabupaten ” tegas Yusrin.


Dampak Lintas Wilayah: Aceh Utara Terancam
Kondisi kerusakan hutan di Bener Meriah, terutama di Kecamatan Syiah Utama yang berada di daerah hulu, dipastikan akan membawa dampak ekologis serius bagi daerah hilir seperti Kabupaten Aceh Utara. Rusaknya tutupan hutan dapat memicu peningkatan debit air sungai secara drastis saat musim hujan, yang akan menyebabkan banjir bandang, erosi, dan penurunan kualitas air yang berdampak langsung pada masyarakat di hilir.
“Jika hutan di Syiah Utama habis, banjir akan mengancam Aceh Utara. Ini bukan masalah satu kabupaten. Ini masalah regional yang perlu ditangani lintas kabupaten,” ujar Salah Seorang Masyarakat dari Unsur Pemuda.( Dirman )

Seruan Kolaborasi Lintas Daerah dan Aksi Pemerintah PusatMasyarakat, tokoh adat, dan pemerhati lingkungan kini menuntut tindakan konkret dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan Mereka mendesak:

1. Pengiriman tim investigasi dan audit kerusakan hutan di wilayah Syiah Utama.

2.Tindakan tegas terhadap pelaku illegal logging, termasuk penelusuran aktor pemodal.

3. Penguatan personil dan anggaran operasional BKPH/KPH, agar mampu menjalankan fungsi pengawasan.

4. Pemetaan risiko ekologis lintas kabupaten dan pembentukan forum kerja sama antarwilayah dari hulu ke hilir.

5. Program mitigasi konflik gajah-manusia dengan pendekatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.“Kita tidak bisa membiarkan satu daerah menanggung sendiri dampak dari kerusakan yang berdampak regional. Butuh komando nasional untuk mengkoordinir peran aktif pemerintah daerahdan Aparat Penegak Hukum,” tegas Yusrin.Pesan Nasional: Hutan Bukan Warisan, Tapi TitipanKondisi ini menjadi pengingat bahwa hutan bukan hanya sumber ekonomi jangka pendek, tetapi fondasi keberlanjutan hidup manusia, satwa, dan generasi mendatang. Jika kerusakan ini tidak segera dihentikan, Indonesia akan kehilangan lebih dari sekadar pohon – kita akan kehilangan harapan.

Exit mobile version